Pacaran jarak jauh bisa menyenangkan atau membuat kita
menderita bahkan sampai ke tingkat membosankan. Itu semua tergantung dari segi
mana kita memandang dan menjalaninya. Salah satu bagian paling vital dalam
hubungan pacaran baik itu jarak dekat maupun jarak jauh tetap Rp 2000.
Komunikasi yang nggak lancar akan menjadi batu sandungan dalam suatu hubungan
jarak jauh. Beruntunglah kita wahai pemuda yang hidup di zaman sekarang,
karena semuanya lebih dimudahkan!
Nggak semua orang bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan
baik. Perlu banyak kesabaran dan usaha buat ngelewatin itu semua. Coba
pertimbangkan positif dan negatif hubungan yang lagi lo jalani. Apakah lo dan
dia bahagia? Apakah lo lebih sering bertengkar daripada bermesraan? Apakah
hubungan berubah menjadi buruk setelah dia pindah ke kota lain? Dan berbagai
hal lainnya. Kalo setelah ditimbang ternyata hal baik lebih unggul, nggak ada
salahnya lo berpikir dua kali empat sama dengan delapan buat melanjutkan hubungan jarak
jauh.
Jangan tergesa-gesa mengakhiri hubungan, bicarakan dulu
baik-baik dengan dia. Kasih alasan dan argumen yang tepat. Beruntung banget
kalo akhirnya lo dan dia bisa menemukan jalan keluar. Siapa tahu adanya
perubahan malah akan membuat kalian lebih akur. Tapi kalo nggak, kenyataan pahit emang
harus ditempuh. Lagian pasti nggak ada orang yang mau terus-terusan sedih dan menderita karena
cinta.
Ungkapan jodoh nggak kemana itu berlaku banget buat pasangan LDR. Gue yakin, pasti banyak yang mengerutkan kening dan pasang wajah bete saat melihat dan
membaca kata LDR. Jarak nampaknya sukses bertransformasi menjadi momok menakutkan dalam suatu hubungan. Banyak yang udah skeptis duluan, bahkan enggan menjalin hubungan
berbasis long distance. Well, anggapan itu nggak bisa disalahin sepenuhnya. Di depan mata
aja kalo mau bisa selingkuh, apalagi yang jauh, ya?
Bayangin
kalo pacaran ala LDR, siapa yang dipeluk kalo kangen? Siapa yang diajak jalan
kalo sabtu malam? Gimana kalo seandainya beda zona waktu? Belum lagi mengatasi
rasa cemburu yang bisa melanda tanpa aba-aba. Nyebelin kan? Udah cemburu,
insecure, si dia nggak kelihatan dan kita terpaksa menelan bulat-bulat
kata-katanya dengan basis “aku percaya”. Ada yang bisa, banyak yang tetap
cemburu membabi buta. Nggak heran, banyak hubungan long distance yang karam di
tengah jalan karena masalah ini. Nggak percaya sama pasangan. Padahal, baik long distance atau nggak, setiap hubungan seharusnya selalu berpondasi pada trust. Kalo
versi gue, no trust, no relationship. Buat apa pacaran kalo makan hati karena
curiga setiap saat? Bahkan tersangka teroris aja capek kalo dicurigai
terus.
Belum lagi kalo kesepian dan
merasakan kangen akut. Yang bisa dilakukan cuma manyun sambil peluk guling,
ngelus-ngelus foto dia yang dijadikan wallpaper di hp, mendengarkan lagu
kesayangan berdua sambil berurai airmata, atau menatap bintang di langit sambil
berlinang air mata dan berbisik “Are you now looking at the same stars as i do? Do you know how much i miss you?” Okay, mungkin ini lebay, tapi tetep
ya rasa nyesek kalo kangen itu nggak enak banget.
Begitu ada kesempatan buat
ketemu, waktunya mepet. Tau-tau si dia harus balik ke kota tempat dia
tinggal. Time surely flies when you’re happy, or with the one you love,
right? Kembalilah lagi ke siklus malam-malam galau. Mellow ngga jelas, menatap
nanar gelas yang berisi baygon.
Gue punya cerita tentang dua
hubungan jarak jauh. Dua kisah ini berasal dari dua temen deket gue. Kisah
pertama berakhir dengan karam di tengah jalan, karena sang cowok ngga bisa
ngejalanin hubungan sama temen gue ini dalam jarak jauh. Mereka mulai pacaran saat temen gue ini masih tinggal di kota yang sama dengan cowoknya. Tapi
ketika keadaan memaksa sang cewek pindah sekolah, nggak butuh waktu lama
"jarak" akhirnya membubarkan hubungan mereka.
Kisah kedua bertahan lebih
lama. Temen gue yang satu ini tahan melawan jarak sama cowoknya selama 4 tahun.
Wow! Padahal si cowoknya ini lebih muda. Mereka pacaran dari tahun 2008 sampe
sekarang. Terbukti kan nggak selamanya LDR itu membuat gundah gulana.
So yeah, many
people say LDR sucks. Padahal nggak selalu gitu kok. Selama tahan dan bisa sabar
menahan rindu serta menjauhkan virus insecure, posesif, cemburu berlebihan dan
most of all, percaya sama kekuatan cinta, any kind of relationship will
work.
People do
stupid things in the name of love all the time. As long as they're happy, why
not? Jadi, kata siapa LDR cuma membawa luka?