Satu-satunya
kesalahanku adalah mencintaimu. Kesalahan berlapis yang kusyukuri karena tak
pernah ada penyesalan yang mengikuti. Karena bisa mencintaimu adalah sebuah
keajaiban sempurna yang mengakar lekang dalam barisan hari. Hari itu- ketika
kita bersama mengucapkan janji, tunduk teduh pada keakuan hati, detik ini dan
selamanya, nanti. Absurd tapi absolut. Begitu mengagumkan kemiripan antara
cinta dan kegilaan. Dua-duanya serba tak terduga. Rinduku padamu telah
membumihanguskan kewarasan, dan itulah nyatanya. Seperti lilin yang membakar
dirinya hingga luluh lantak pada ketiadaan. Menjadi awal seperti sedia kala,
senyawa dalam dirinya tanpa api yang berpijar sebagai titik pengakhirannya.
Kepadamu aku
kembali. Akan kuceritakan tentang dia yang belakangan ini menyita ingatan. Harum
tubuhnya masih tertinggal. Melekat pekat di indra penciuman. Sentuhan yang menghangatkan
ruas badan. Merayap senyap tanpa ikatan. Membuai hening dalam ingatan. Bingkai-bingkai
yang berbicara. Menelaah dinding dengan sapa rindu yang tak usang. Sadarku makin
nyata. Saat rebahku di sofa menuai kegelisahannya.
Maaf. Sebaris waktu
telah mencuri kelengahanku. Sejenak aku berpaling dari matamu. Selain maaf, aku
tak punya bekal lain untuk mengembalikan senyumanmu. Maaf kuiba. Tulus caraku
berlindung dari kesalmu yang bertakhta. Untuk kata yang tak sengaja mencederai
perasaanmu, maafkan aku. Jika kesalahan ini tak pantas mendapatkan maafmu,
maafkan aku. Sebukit salahku, sebesar inginku mendapat maaf darimu. Dan, maafku
bukan pura-pura apalagi tipu daya. Jika tak percaya, tinggalkan aku sendiri
dengan penyesalanku.
Tanpa ditulis pun,
kenangan kita tetap seperti buku. Lembar demi lembarnya selalu terbuka tiap
kali kita mengingatnya. Iya, kita. Kenangan itu ibarat cermin. Dari bening dan
buramnya, dari utuh dan retaknya, kita berkaca. Iya, kita. Mempercayakan hatiku
dalam genggamanmu. Ikhlaslah yang membuatku larut dalam cintamu. I love you.
No comments:
Post a Comment