Sunday, July 6, 2014

No pain, no maturity


6 Oktober 2009

 
Aku baru berhasil memejamkan mata sekitar pukul satu. Entah apa yang sedang kupikirkan, perasaanku begitu tak tenang. Sekitar pukul lima, aku yang baru saja berhasil memasuki dunia mimpi, sontak terbangun mendengar jeritan Mama dari kamarnya. Dengan cemas aku segera menghampiri Mama. Di kamarnya, beliau sedang berusaha membangunkan Papa yang tertelungkup tak sadarkan diri.

“Ma, Papa kenapa?” tanyaku waktu itu.
“Nggak tau, sebelum salat subuh Papa masih baik-baik aja. Mama tinggal ke belakang, Papa udah gini.”

Panik menjalari kami sekeluarga. Pikiran paling buruk pun menghinggapi diriku. Segera aku dan kakakku meminta pertolongan tetangga untuk membawa Papa ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari rumah. Tak lama kami sampai di UGD. Kami menunggu hasil pemeriksaaan dengan gelisah. Beberapa menit kemudian, seorang petugas menghampiri kedua kakakku. Dengan ekspresi tak tega, ia memberitahukan bahwa Papa telah tiada. Saat itu aku berharap bahwa aku hanya sedang berada dalam acara super trap. Berharap akhirnya petugas itu mengatakan bahwa semuanya hanya jebakan. Tapi sayangnya keinginanku itu hanya sebatas ilusi. Papa meninggalkan kami tepat lima hari sebelum resepsi pernikahan kakak pertamaku. Sedih, kalut, kecewa, bahkan marah sempat kutujukan kepada Semesta. Kenapa mesti Papa yang begitu cepat dipanggil menghadap-Nya? Kenapa mesti Papa dari jutaan bahkan milyaran orang yang ada di dunia ini? Kenapa mesti menjelang hari istimewa putri pertamanya? Mama menangis menjerit, aku bersaudarapun tak kalah berduka. Iya, kami harus kehilangan sosok pemimpin di rumah. Satu-satunya pria yang dapat menjaga kami. Mengingat anak Papa semuanya adalah wanita.

6 Juli 2014

Hallo, Pa? Gimana kabar Papa di sana? Pasti tempat Papa di sana lebih indah, ya? Kalo Iyan bilang, Tuhan butuh temen makanya memanggil Papa untuk menemani-NYA.

Hampir lima tahun berlalu, aku masih tak percaya Papa telah tiada. Mungkin beberapa orang di luar sana berpikiran bahwa aku berlebihan. Mereka dengan mudah menyuruhku untuk bersabar dan mengikhlaskan kepergian Papa. Bagaimanapun seseorang menyuruhku bersabar, menghilangkan kesedihanku, tetap saja air mata ini mengalir tiap kali teringat sosok Papa. Sosok laki-laki terbaik yang sangat kudambakan. Aku menyayangi Papa, tetapi ternyata Semesta lebih menyayangi Papa

Sering aku menganggap Papa hanya sedang berpergian ke suatu tempat dan kelak akan pulang. Berharap begitu Papa pulang, beliau akan bangga melihat putri-putrinya telah tumbuh dewasa dengan segudang prestasi. Papa bisa melihat putri pertamanya telah memiliki keluarga kecil yang harmonis dan kini sudah memberikannya seorang cucu yang sangat lucu dan pintar. Melihat putri keduanya telah berhasil menamatkan pendidikan strata satu di universitas paling bergengsi di tanah air ini. Melihat bahwa putri bungsunya telah menyelesaikan high school dengan nilai yang membanggakan. Hampir lima tahun kepergian Papa, begitu banyak yang berubah dari keluarga kami. Mama, orangtua tunggal praktis harus menggantikan sosok Papa untuk menjadi kepala keluarga. Aku hanya berharap Semesta memberiku waktu untuk dapat sedikit membalas jasa orangtua, terlebih Mama. Membuat Mama tersenyum karena hasil kerja keras putrinya.

Hidup memang berputar antara pertemuan dan perpisahan. Terlalu nyaman dengan kondisi yang tengah dihadapi kadang membuatku terlupa bahwa kami milik Sang Maha Hidup. Kehilangan tentu menyedihkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Itu lumrah dirasakan manusia yang kadar egonya melebihi superego. Hampir lima tahun berlalu aku masih belajar untuk berdamai dengan keadaan. Mencoba mengafirmasi bahwa pada saatnya memang aku harus berpisah dengan semua orang yang kusayang. Sebelum waktu itu datang, aku harus berbuat yang terbaik untuk mereka.

Malam ini, ketika rasa rinduku begitu membuncah, aku hanya dapat memandangi sosok Papa dalam bingkai foto. Aku bahagia jika Papa bahagia di sana. Seperti yang pernah kukatakan, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di surga Allah. No matter what’s going on, i’m pretty sure everything’s gonna be okay.

 Ade sayang Papa :') 



No comments:

Post a Comment