Selaku seorang remaja yang berkesempatan untuk meraih masa depan sebagai pribadi yang sukses, saya tentu memiliki sebuah impian dan cita-cita dalam menjalani hidup di dunia fana
ini. Menurut
saya, sebuah cita-cita atau
impian mampu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak cepat merasa puas dan berleha-leha dalam comfort zone. Melalui sebuah impian, saya akan memiliki semangat
lebih untuk membuat perubahan dalam segala aspek kehidupan.
Aspek yang paling penting dalam
sebuah kesuksesan adalah pendidikan. Pendidikan dinilai khalayak ramai sebagai awal dari kesuksesan, seakan-akan setiap orang yang sukses pasti memiliki latar
belakang pendidikan yang memadai. Selain itu, pendidikan adalah salah satu hal yang
bisa dijadikan sebagai barometer kualitas suatu bangsa. Tak dipungkiri lagi,
pendidikan merupakan elemen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dengan
pendidikan, generasi penerus mampu bersaing dengan lulusan negara
lainnya.
Sekolah. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi kita semua. Sekolah
merupakan perwujudan kasatmata dari lembaga pendidikan. Bagaikan jembatan,
sekolah dapat menghubungkan seseorang dengan impian dan cita-citanya. Akan
tetapi, sebagai salah satu pelajar Indonesia, saya belum
mampu mengatakan sekolah di
Indonesia sebagai sekolah dambaan bagi jutaan siswa dan siswi negeri ini. Banyak
aspek yang perlu dibenahi dari sekolah di Indonesia untuk dapat menjadi sekolah
dambaan seluruh anak Indonesia.
Masalah pertama dari sistem pendidikan Indonesia adalah
fasilitas sarana dan prasarana. Saat
animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan kian meningkat, hal ini tidak
dibarengi dengan membaiknya kualitas dan sistem pendidikan di Indonesia. Tentu
kita telah sama-sama mengetahui bagaimana wajah dunia pendidikan Indonesia saat
ini. Sarana penunjang pendidikan di sekolah-sekolah belum memadai, sehingga
menghambat aktivitas belajar mengajar itu sendiri.
Fasilitas
belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keefektifan proses belajar dengan baik. Dengan adanya fasilitas belajar yang
memadai, maka
kelancaran dalam belajar akan mudah
terwujud. Jika sekolah memiliki ketersediaan dana yang mencukupi, maka kelengkapan fasilitas penunjang
kegiatan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas
belajar, akan semakin mudah pula kegiatan
belajar mengajar terlaksana.
Fasilitas belajar yang
dimaksudkan adalah menyangkut ketersediaan berbagai hal yang dapat memberikan kemudahan para pelajar dalam memperoleh
pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Fasilitas belajar yang
sangat penting adalah ruang kelas yang layak, laboratorium
yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik
lainnya yang secara langsung memengaruhi
kenyamanan belajar.
Selain belum memadainya
sarana fisik sekolah, sistem pendidikan Indonesia ini terkadang menyulitkan
siswa itu sendiri. Pemerintah selalu terobsesi dengan pendidikan yang lebih
baik, namun kurang mempertimbangkan akibat dari sistem yang justru merugikan.
Seperti kasus ujian nasional yang dijadikan syarat kelulusan. Hal ini dirasakan
membebani, karena dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun untuk jenjang SMA, kelulusan
ditetapkan hanya dari enam mata
pelajaran yang diujikan selama empat hari.
Hal ini tentu
memberatkan karena bakat serta minat seseorang tidak bisa disamakan. Mungkin ia
lemah dalam pelajaran eksakta atau sosial yang
notabene adalah mata pelajaran yang di-UN-kan, namun ia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Selain itu penetapan
standar nasional tidak bisa diterapkan selama kualitas pendidikan belum merata.
Sekolah di daerah Papua tentu tidak mendapatkan sarana dan prasarana sebaik
sekolah di pusat kota.
Kriteria lain untuk menjadi sekolah dambaan adalah dari
segi tenaga pengajar alias guru. Sekolah dambaan harus memiliki guru yang dapat menjadi panutan bagi setiap anak
didiknya. Saya pernah membaca
suatu buku yang berisikan kalimat seperti ini, "Have you ever really had a teacher? One who
saw you as raw but precious thing, a jewel that, with wisdom, could be polished
to a proud shine?"
Guru yang baik tidak hanya memiliki gelar pendidikan yang tinggi saja, namun ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Banyak yang beranggapan guru killer adalah guru yang sukses dalam mengajar, namun bagi saya anggapan itu salah besar. Saya
ingin kelak tidak lagi ada guru
yang membuat para siswa dan siswinya
merasa seolah berada dalam
ruang penyiksaan saat bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Bagi saya,
guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh murid-muridnya. Selain itu, guru juga harus memiliki
kemampuan sosial yang baik. Akan sia-sia saja
jika guru yang sangat cerdas, namun saat
mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik kepada anak didiknya. Bangsa ini merindukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang
sesungguhnya.
Untuk itu perlu ada
perbaikan kualitas pendidikan, karena pendidikan ditunjang dengan sarana serta
prasarana yang baik pula. Dengan sarana yang memadai, akan mempermudah anak
didik untuk memaksimalkan kemampuannya. Jika seorang anak mempunyai minat yang
tinggi dalam bidang sains, namun peralatan yang dibutuhkan di laboratorium sekolahnya
tidak memadai, tentu ini akan
menjadi suatu penghambat bagi keberlangsungan pembelajaran si anak.
Selain itu, ada beberapa
kualitas pendidikan lainnya yang juga menjadi hal yang penting untuk
dipertimbangkan. Seperti proses pembelajaran, kurikulum yang digunakan,
sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar, serta lulusan
yang dihasilkan. Hal-hal tersebut harus
benar-benar diperhatikan guna melahirkan sekolah dambaan bagi seluruh anak
Indonesia.


No comments:
Post a Comment