Aku rela
bayangmu menghantui setiap inci pikiranku. Mengingatmu sebagai yang pertama dan
terindah. Yang pasti, aku yakin semua bermakna saat aku dan kamu menjadi kita.
Perjalanan kisah
kita memang terhenti, tetapi rasaku tetap sama padamu. Berjuta kilometer harus
kutempuh untuk kembali menjemput bahagia denganmu. Ya, aku memang harus
menjemput bahagia bukan hanya menunggu. Kecuali menunggumu ; satu hal yang
pasti kulakukan hingga kelak hati ini telah sampai di pelabuhannya.
Aku sadar akar pertautan yang menunjang itu tak sekokoh tiga tahun lalu. Atau mungkin telah tercerabut karena kebodohanku. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? Atau kamu lebih rela membiarkan pohon itu tumbang dan akhirnya mengering? Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencoba mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.
Kita memang tidak mampu memilih jatuh cinta pada siapa. Sekalipun semesta mengizinkan aku untuk memilih, sekali lagi dan seterusnya aku akan memlih jatuh cinta pada hatimu. Tetapi hati ini teriris tipis ketika kamu mengatakan hal itu. “Aku takut terluka lagi!” lirih hatimu. Tapi perlu kamu tahu, di balik kelelahannya, rinduku masih ingin bertemu dengan harapan yang sempat ia hentikan.
Tak butuh kamu memahaminya, cukup rasakan saja. Di sini, bersama kepingan kisah yang terhenti aku selalu mengejamu sebagai yang pertama.
No comments:
Post a Comment