Sunday, December 8, 2013

Ketidakberdayaan Sebuah Rasa

Kuingin bergegas pulang ke peristirahatan rinduku : hatimu
Bagaimana bisa mencegah bila labirin hatimu setia menjemputku kembali
Kembali ke tempat ketika kita memulai kisah, jatuh cinta
Di luar pemahaman akal sehat, rindu ini selamanya milikmu saja
Taman cintaku selalu mendakwa bayangmu tanpa henti
Mengendapkannya dalam diam, menungu perjumpaan merunut senyatanya

Perpisahan membumihanguskan seluruh rindu tak bersisa
Terang memendar di antara nanar rindu yang telantar akibat kebisuan jarak
Rinduku akut, merajalela di batas angkuh yang membisukan tanya tentangmu
Dalam pekat malam bayangmu seolah lentera yang menyoroti sebaris kesunyianku
Apakah kau memendam rindu yang sama?
Bagaimana bisa aku beranjak pergi bila sapamu hari ini menjadi kejutan
Dan sepanjang sisa hari ini hingga nanti, kisahku jadi bertema “Bahagia Bersamamu”

Saturday, September 28, 2013

Ruang Tunggu Untuk Cinta

Aku rela bayangmu menghantui setiap inci pikiranku. Mengingatmu sebagai yang pertama dan terindah. Yang pasti, aku yakin semua bermakna saat aku dan kamu menjadi kita.

Perjalanan kisah kita memang terhenti, tetapi rasaku tetap sama padamu. Berjuta kilometer harus kutempuh untuk kembali menjemput bahagia denganmu. Ya, aku memang harus menjemput bahagia bukan hanya menunggu. Kecuali menunggumu ; satu hal yang pasti kulakukan hingga kelak hati ini telah sampai di pelabuhannya.

Aku sadar akar pertautan yang menunjang itu tak sekokoh tiga tahun lalu. Atau mungkin telah tercerabut karena kebodohanku. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? Atau kamu lebih rela membiarkan pohon itu tumbang dan akhirnya mengering? Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencoba mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.

Kita memang tidak mampu memilih jatuh cinta pada siapa. Sekalipun semesta mengizinkan aku untuk memilih, sekali lagi dan seterusnya aku akan memlih jatuh cinta pada hatimu. Tetapi hati ini teriris tipis ketika kamu mengatakan hal itu. “Aku takut terluka lagi!” lirih hatimu. Tapi perlu kamu tahu, di balik kelelahannya, rinduku masih ingin bertemu dengan harapan yang sempat ia hentikan.

Tak butuh kamu memahaminya, cukup rasakan saja. Di sini, bersama kepingan kisah yang terhenti aku selalu mengejamu sebagai yang pertama.

Monday, June 3, 2013

Pendidikan Indonesia, Cerminan Bangsa (Sekolah Dambaanku)





Selaku seorang remaja yang berkesempatan untuk meraih masa depan sebagai pribadi yang sukses, saya tentu memiliki sebuah impian dan cita-cita dalam menjalani hidup di dunia fana ini. Menurut saya, sebuah cita-cita atau impian mampu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak cepat merasa puas dan berleha-leha dalam comfort zone. Melalui sebuah impian, saya akan memiliki semangat lebih untuk membuat perubahan dalam segala aspek kehidupan.

Aspek yang paling penting dalam sebuah kesuksesan adalah pendidikan. Pendidikan dinilai khalayak ramai sebagai awal dari kesuksesan, seakan-akan setiap orang yang sukses pasti memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Selain itu, pendidikan adalah salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai barometer kualitas suatu bangsa. Tak dipungkiri lagi, pendidikan merupakan elemen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dengan pendidikan, generasi penerus mampu bersaing dengan lulusan negara lainnya.

Sekolah. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi kita semua. Sekolah merupakan perwujudan kasatmata dari lembaga pendidikan. Bagaikan jembatan, sekolah dapat menghubungkan seseorang dengan impian dan cita-citanya. Akan tetapi, sebagai salah satu pelajar Indonesia, saya belum mampu mengatakan sekolah di Indonesia sebagai sekolah dambaan bagi jutaan siswa dan siswi negeri ini. Banyak aspek yang perlu dibenahi dari sekolah di Indonesia untuk dapat menjadi sekolah dambaan seluruh anak Indonesia.                                                                            

Masalah pertama dari sistem pendidikan Indonesia adalah fasilitas sarana dan prasarana. Saat animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan kian meningkat, hal ini tidak dibarengi dengan membaiknya kualitas dan sistem pendidikan di Indonesia. Tentu kita telah sama-sama mengetahui bagaimana wajah dunia pendidikan Indonesia saat ini. Sarana penunjang pendidikan di sekolah-sekolah belum memadai, sehingga menghambat aktivitas belajar mengajar itu sendiri.

Fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keefektifan proses belajar dengan baik. Dengan adanya fasilitas belajar yang memadai, maka kelancaran dalam belajar akan mudah terwujud. Jika sekolah memiliki ketersediaan dana yang mencukupi, maka kelengkapan fasilitas penunjang kegiatan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas belajar, akan semakin mudah pula kegiatan belajar mengajar terlaksana.

Fasilitas belajar yang dimaksudkan adalah menyangkut ketersediaan berbagai hal yang dapat memberikan kemudahan para pelajar dalam memperoleh pengalaman belajar yang efektif dan efisien.  Fasilitas belajar yang sangat penting adalah ruang kelas yang layak, laboratorium yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik lainnya yang secara langsung memengaruhi kenyamanan belajar.   
                     
 Selain belum memadainya sarana fisik sekolah, sistem pendidikan Indonesia ini terkadang menyulitkan siswa itu sendiri. Pemerintah selalu terobsesi dengan pendidikan yang lebih baik, namun kurang mempertimbangkan akibat dari sistem yang justru merugikan. Seperti kasus ujian nasional yang dijadikan syarat kelulusan. Hal ini dirasakan membebani, karena dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun untuk jenjang SMA, kelulusan ditetapkan hanya dari enam mata pelajaran yang diujikan selama empat hari. Hal ini tentu memberatkan karena bakat serta minat seseorang tidak bisa disamakan. Mungkin ia lemah dalam pelajaran eksakta atau sosial yang notabene adalah mata pelajaran yang  di-UN-kan, namun ia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Selain itu penetapan standar nasional tidak bisa diterapkan selama kualitas pendidikan belum merata. Sekolah di daerah Papua tentu tidak mendapatkan sarana dan prasarana sebaik sekolah di pusat kota.

Kriteria lain untuk menjadi sekolah dambaan adalah dari segi tenaga pengajar alias guru. Sekolah dambaan harus memiliki guru yang dapat menjadi panutan bagi setiap anak didiknya. Saya pernah membaca suatu buku yang berisikan kalimat seperti ini, "Have you ever really had a teacher? One who saw you as raw but precious thing, a jewel that, with wisdom, could be polished to a proud shine?"

Guru yang baik tidak hanya memiliki gelar pendidikan yang tinggi saja, namun ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Banyak yang beranggapan guru killer adalah guru yang sukses dalam mengajar, namun bagi saya anggapan itu salah besar. Saya ingin kelak tidak lagi ada guru yang membuat para siswa dan siswinya merasa seolah berada dalam ruang penyiksaan saat bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Bagi saya, guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh murid-muridnya. Selain itu, guru juga harus memiliki kemampuan sosial yang baik. Akan sia-sia saja jika guru yang sangat cerdas, namun saat mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik kepada anak didiknya. Bangsa ini merindukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang sesungguhnya.

Untuk itu perlu ada perbaikan kualitas pendidikan, karena pendidikan ditunjang dengan sarana serta prasarana yang baik pula. Dengan sarana yang memadai, akan mempermudah anak didik untuk memaksimalkan kemampuannya. Jika seorang anak mempunyai minat yang tinggi dalam bidang sains, namun peralatan yang dibutuhkan di laboratorium sekolahnya tidak memadai, tentu ini akan menjadi suatu penghambat bagi keberlangsungan pembelajaran si anak.

Selain itu, ada beberapa kualitas pendidikan lainnya yang juga menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti  proses pembelajaran, kurikulum yang digunakan, sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar, serta lulusan yang dihasilkan. Hal-hal tersebut harus benar-benar diperhatikan guna melahirkan sekolah dambaan bagi seluruh anak Indonesia.