Kuingin
bergegas pulang ke peristirahatan rinduku : hatimu
Bagaimana
bisa mencegah bila labirin hatimu setia menjemputku kembali
Kembali ke
tempat ketika kita memulai kisah, jatuh cinta
Di luar
pemahaman akal sehat, rindu ini selamanya milikmu saja
Taman cintaku
selalu mendakwa bayangmu tanpa henti
Mengendapkannya
dalam diam, menungu perjumpaan merunut senyatanya
Perpisahan
membumihanguskan seluruh rindu tak bersisa
Terang memendar di antara nanar rindu
yang telantar akibat kebisuan jarak
Rinduku akut, merajalela di batas angkuh
yang membisukan tanya tentangmu
Dalam pekat malam bayangmu seolah
lentera yang menyoroti sebaris kesunyianku
Apakah kau memendam rindu yang sama?
Bagaimana bisa aku beranjak pergi bila
sapamu hari ini menjadi kejutan
Dan sepanjang sisa hari ini hingga
nanti, kisahku jadi bertema “Bahagia Bersamamu”
Bila nanti nyatanya bukan aku pencipta senyummu, setidaknya hari ini aku telah berjuang demi bahagia kita.
Sunday, December 8, 2013
Saturday, September 28, 2013
Ruang Tunggu Untuk Cinta
Aku rela
bayangmu menghantui setiap inci pikiranku. Mengingatmu sebagai yang pertama dan
terindah. Yang pasti, aku yakin semua bermakna saat aku dan kamu menjadi kita.
Perjalanan kisah
kita memang terhenti, tetapi rasaku tetap sama padamu. Berjuta kilometer harus
kutempuh untuk kembali menjemput bahagia denganmu. Ya, aku memang harus
menjemput bahagia bukan hanya menunggu. Kecuali menunggumu ; satu hal yang
pasti kulakukan hingga kelak hati ini telah sampai di pelabuhannya.
Aku sadar akar pertautan yang menunjang itu tak sekokoh tiga tahun lalu. Atau mungkin telah tercerabut karena kebodohanku. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? Atau kamu lebih rela membiarkan pohon itu tumbang dan akhirnya mengering? Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencoba mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.
Kita memang tidak mampu memilih jatuh cinta pada siapa. Sekalipun semesta mengizinkan aku untuk memilih, sekali lagi dan seterusnya aku akan memlih jatuh cinta pada hatimu. Tetapi hati ini teriris tipis ketika kamu mengatakan hal itu. “Aku takut terluka lagi!” lirih hatimu. Tapi perlu kamu tahu, di balik kelelahannya, rinduku masih ingin bertemu dengan harapan yang sempat ia hentikan.
Tak butuh kamu memahaminya, cukup rasakan saja. Di sini, bersama kepingan kisah yang terhenti aku selalu mengejamu sebagai yang pertama.
Monday, June 3, 2013
Pendidikan Indonesia, Cerminan Bangsa (Sekolah Dambaanku)
Selaku seorang remaja yang berkesempatan untuk meraih masa depan sebagai pribadi yang sukses, saya tentu memiliki sebuah impian dan cita-cita dalam menjalani hidup di dunia fana
ini. Menurut
saya, sebuah cita-cita atau
impian mampu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak cepat merasa puas dan berleha-leha dalam comfort zone. Melalui sebuah impian, saya akan memiliki semangat
lebih untuk membuat perubahan dalam segala aspek kehidupan.
Aspek yang paling penting dalam
sebuah kesuksesan adalah pendidikan. Pendidikan dinilai khalayak ramai sebagai awal dari kesuksesan, seakan-akan setiap orang yang sukses pasti memiliki latar
belakang pendidikan yang memadai. Selain itu, pendidikan adalah salah satu hal yang
bisa dijadikan sebagai barometer kualitas suatu bangsa. Tak dipungkiri lagi,
pendidikan merupakan elemen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dengan
pendidikan, generasi penerus mampu bersaing dengan lulusan negara
lainnya.
Sekolah. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi kita semua. Sekolah
merupakan perwujudan kasatmata dari lembaga pendidikan. Bagaikan jembatan,
sekolah dapat menghubungkan seseorang dengan impian dan cita-citanya. Akan
tetapi, sebagai salah satu pelajar Indonesia, saya belum
mampu mengatakan sekolah di
Indonesia sebagai sekolah dambaan bagi jutaan siswa dan siswi negeri ini. Banyak
aspek yang perlu dibenahi dari sekolah di Indonesia untuk dapat menjadi sekolah
dambaan seluruh anak Indonesia.
Masalah pertama dari sistem pendidikan Indonesia adalah
fasilitas sarana dan prasarana. Saat
animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan kian meningkat, hal ini tidak
dibarengi dengan membaiknya kualitas dan sistem pendidikan di Indonesia. Tentu
kita telah sama-sama mengetahui bagaimana wajah dunia pendidikan Indonesia saat
ini. Sarana penunjang pendidikan di sekolah-sekolah belum memadai, sehingga
menghambat aktivitas belajar mengajar itu sendiri.
Fasilitas
belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keefektifan proses belajar dengan baik. Dengan adanya fasilitas belajar yang
memadai, maka
kelancaran dalam belajar akan mudah
terwujud. Jika sekolah memiliki ketersediaan dana yang mencukupi, maka kelengkapan fasilitas penunjang
kegiatan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas
belajar, akan semakin mudah pula kegiatan
belajar mengajar terlaksana.
Fasilitas belajar yang
dimaksudkan adalah menyangkut ketersediaan berbagai hal yang dapat memberikan kemudahan para pelajar dalam memperoleh
pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Fasilitas belajar yang
sangat penting adalah ruang kelas yang layak, laboratorium
yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik
lainnya yang secara langsung memengaruhi
kenyamanan belajar.
Selain belum memadainya
sarana fisik sekolah, sistem pendidikan Indonesia ini terkadang menyulitkan
siswa itu sendiri. Pemerintah selalu terobsesi dengan pendidikan yang lebih
baik, namun kurang mempertimbangkan akibat dari sistem yang justru merugikan.
Seperti kasus ujian nasional yang dijadikan syarat kelulusan. Hal ini dirasakan
membebani, karena dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun untuk jenjang SMA, kelulusan
ditetapkan hanya dari enam mata
pelajaran yang diujikan selama empat hari.
Hal ini tentu
memberatkan karena bakat serta minat seseorang tidak bisa disamakan. Mungkin ia
lemah dalam pelajaran eksakta atau sosial yang
notabene adalah mata pelajaran yang di-UN-kan, namun ia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Selain itu penetapan
standar nasional tidak bisa diterapkan selama kualitas pendidikan belum merata.
Sekolah di daerah Papua tentu tidak mendapatkan sarana dan prasarana sebaik
sekolah di pusat kota.
Kriteria lain untuk menjadi sekolah dambaan adalah dari
segi tenaga pengajar alias guru. Sekolah dambaan harus memiliki guru yang dapat menjadi panutan bagi setiap anak
didiknya. Saya pernah membaca
suatu buku yang berisikan kalimat seperti ini, "Have you ever really had a teacher? One who
saw you as raw but precious thing, a jewel that, with wisdom, could be polished
to a proud shine?"
Guru yang baik tidak hanya memiliki gelar pendidikan yang tinggi saja, namun ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Banyak yang beranggapan guru killer adalah guru yang sukses dalam mengajar, namun bagi saya anggapan itu salah besar. Saya
ingin kelak tidak lagi ada guru
yang membuat para siswa dan siswinya
merasa seolah berada dalam
ruang penyiksaan saat bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Bagi saya,
guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh murid-muridnya. Selain itu, guru juga harus memiliki
kemampuan sosial yang baik. Akan sia-sia saja
jika guru yang sangat cerdas, namun saat
mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik kepada anak didiknya. Bangsa ini merindukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang
sesungguhnya.
Untuk itu perlu ada
perbaikan kualitas pendidikan, karena pendidikan ditunjang dengan sarana serta
prasarana yang baik pula. Dengan sarana yang memadai, akan mempermudah anak
didik untuk memaksimalkan kemampuannya. Jika seorang anak mempunyai minat yang
tinggi dalam bidang sains, namun peralatan yang dibutuhkan di laboratorium sekolahnya
tidak memadai, tentu ini akan
menjadi suatu penghambat bagi keberlangsungan pembelajaran si anak.
Selain itu, ada beberapa
kualitas pendidikan lainnya yang juga menjadi hal yang penting untuk
dipertimbangkan. Seperti proses pembelajaran, kurikulum yang digunakan,
sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar, serta lulusan
yang dihasilkan. Hal-hal tersebut harus
benar-benar diperhatikan guna melahirkan sekolah dambaan bagi seluruh anak
Indonesia.
Subscribe to:
Comments (Atom)

