Tuesday, March 17, 2015

There Were You

After years that we have wasted
And the days that have been rotten
I feel like separated
Burying our pieces of memory

The days still passing, the time keeps running
Increasing the distance between us
I'm not forcing you to do so
I'm just want to tell what I feel...

There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always... love you

After a long time
After a heavy struggles
I started to think
Can I get you?

But when I see your face
But when I see your smile
I started to believe
That sometimes I will... I will

There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always...

There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always... love you

I don't know why I being so numb
I don't know if you feel the same
I don't know if you still with me
But I know that I still with you

Just try to keep us close
Not try to make things worse



—a birthday gift from someone special...

I've been here. I'm still right here waiting for you until i hear you sing the song.

Sunday, July 6, 2014

No pain, no maturity


6 Oktober 2009

 
Aku baru berhasil memejamkan mata sekitar pukul satu. Entah apa yang sedang kupikirkan, perasaanku begitu tak tenang. Sekitar pukul lima, aku yang baru saja berhasil memasuki dunia mimpi, sontak terbangun mendengar jeritan Mama dari kamarnya. Dengan cemas aku segera menghampiri Mama. Di kamarnya, beliau sedang berusaha membangunkan Papa yang tertelungkup tak sadarkan diri.

“Ma, Papa kenapa?” tanyaku waktu itu.
“Nggak tau, sebelum salat subuh Papa masih baik-baik aja. Mama tinggal ke belakang, Papa udah gini.”

Panik menjalari kami sekeluarga. Pikiran paling buruk pun menghinggapi diriku. Segera aku dan kakakku meminta pertolongan tetangga untuk membawa Papa ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari rumah. Tak lama kami sampai di UGD. Kami menunggu hasil pemeriksaaan dengan gelisah. Beberapa menit kemudian, seorang petugas menghampiri kedua kakakku. Dengan ekspresi tak tega, ia memberitahukan bahwa Papa telah tiada. Saat itu aku berharap bahwa aku hanya sedang berada dalam acara super trap. Berharap akhirnya petugas itu mengatakan bahwa semuanya hanya jebakan. Tapi sayangnya keinginanku itu hanya sebatas ilusi. Papa meninggalkan kami tepat lima hari sebelum resepsi pernikahan kakak pertamaku. Sedih, kalut, kecewa, bahkan marah sempat kutujukan kepada Semesta. Kenapa mesti Papa yang begitu cepat dipanggil menghadap-Nya? Kenapa mesti Papa dari jutaan bahkan milyaran orang yang ada di dunia ini? Kenapa mesti menjelang hari istimewa putri pertamanya? Mama menangis menjerit, aku bersaudarapun tak kalah berduka. Iya, kami harus kehilangan sosok pemimpin di rumah. Satu-satunya pria yang dapat menjaga kami. Mengingat anak Papa semuanya adalah wanita.

6 Juli 2014

Hallo, Pa? Gimana kabar Papa di sana? Pasti tempat Papa di sana lebih indah, ya? Kalo Iyan bilang, Tuhan butuh temen makanya memanggil Papa untuk menemani-NYA.

Hampir lima tahun berlalu, aku masih tak percaya Papa telah tiada. Mungkin beberapa orang di luar sana berpikiran bahwa aku berlebihan. Mereka dengan mudah menyuruhku untuk bersabar dan mengikhlaskan kepergian Papa. Bagaimanapun seseorang menyuruhku bersabar, menghilangkan kesedihanku, tetap saja air mata ini mengalir tiap kali teringat sosok Papa. Sosok laki-laki terbaik yang sangat kudambakan. Aku menyayangi Papa, tetapi ternyata Semesta lebih menyayangi Papa

Sering aku menganggap Papa hanya sedang berpergian ke suatu tempat dan kelak akan pulang. Berharap begitu Papa pulang, beliau akan bangga melihat putri-putrinya telah tumbuh dewasa dengan segudang prestasi. Papa bisa melihat putri pertamanya telah memiliki keluarga kecil yang harmonis dan kini sudah memberikannya seorang cucu yang sangat lucu dan pintar. Melihat putri keduanya telah berhasil menamatkan pendidikan strata satu di universitas paling bergengsi di tanah air ini. Melihat bahwa putri bungsunya telah menyelesaikan high school dengan nilai yang membanggakan. Hampir lima tahun kepergian Papa, begitu banyak yang berubah dari keluarga kami. Mama, orangtua tunggal praktis harus menggantikan sosok Papa untuk menjadi kepala keluarga. Aku hanya berharap Semesta memberiku waktu untuk dapat sedikit membalas jasa orangtua, terlebih Mama. Membuat Mama tersenyum karena hasil kerja keras putrinya.

Hidup memang berputar antara pertemuan dan perpisahan. Terlalu nyaman dengan kondisi yang tengah dihadapi kadang membuatku terlupa bahwa kami milik Sang Maha Hidup. Kehilangan tentu menyedihkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Itu lumrah dirasakan manusia yang kadar egonya melebihi superego. Hampir lima tahun berlalu aku masih belajar untuk berdamai dengan keadaan. Mencoba mengafirmasi bahwa pada saatnya memang aku harus berpisah dengan semua orang yang kusayang. Sebelum waktu itu datang, aku harus berbuat yang terbaik untuk mereka.

Malam ini, ketika rasa rinduku begitu membuncah, aku hanya dapat memandangi sosok Papa dalam bingkai foto. Aku bahagia jika Papa bahagia di sana. Seperti yang pernah kukatakan, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di surga Allah. No matter what’s going on, i’m pretty sure everything’s gonna be okay.

 Ade sayang Papa :') 



Saturday, July 5, 2014

Alles Gute zum Geburtstag, Ayen! ♥

“Injit-injit semut, siapa naik ke atas.”

Kalimat yang terdengar agak aneh itu adalah jingle yang lagi sering Darrell nyanyiin beberapa minggu belakangan. Darrell Azzam Fawwaz Dean, biasa gue panggil Ayen. Dia adalah keponakan kesayangan gue, karena so far dia satu-satunya keponakan yang gue miliki. Minggu lalu Darrell merayakan hari jadinya yang ke-4.

Meskipun baru berumur 4 tahun, Darrell bagaikan anak ajaib yang hampir tahu semua hal. Tingginya 102 cm, berat badannya 15 kg. Berat badannya gampang naik dan turun, tergantung nafsu makannya. Tapi belakangan ini dia harus sering check up karena dia mengikuti rekam jejak gue yang memiliki masalah paru-paru sewaktu kecil. Cepet sembuh Ayen, jangan susah minum obat!

Well, gue akui, Darrell emang anak yang cerdas. Tumbuh kembangnya begitu cepat. Nggak perlu waktu lama buat bikin dia ngerti tentang hal baru. Satu hal yang gue sayangkan  adalah pertumbuhan rambutnya yang begitu lambat.

Belakangan ini Darrell sedang terkontaminasi virus sinetron yang menjadi tontonan favoritnya. Sebut saja GGS. Kadang gue ngerasa sedih tiap kali denger dia mengeluarkan serentetan kalimat yang dia dapet dari sinetron itu. Setiap hari gue berharap supaya dia cepat mendapat hidayah dan berhenti nonton serial yang belum pantes dikonsumsi anak seumurnya.

Apapun itu, Darrell tetep keponakan kesayangan gue. Anak kecil yang paling deket sama gue selain anak gue nanti, itupun kalo gue punya anak hihi. Mungkin dia satu-satunya anak yang sejak bayi nggak takut sama gue. Lumayan lengket, tapi kadang annoying banget kalo penyakit resenya lagi kumat. Ya layaknya kelakuan anak seumurnya aja sih.  Anyway, yuk tengok perubahan Darrell sejak lahir sampe sekarang. Check this out!


Last but surely not least, happy birthday my dearest handsome nephew! Apapun yang terbaik buat Ayen, semoga Allah berikan. Makin pinter dan jangan bikin onar terus. My amen to every wish you have. Kalo suatu saat kamu baca ini, tinggalkan jejak ya. I love youuuuuuuuuu ♥

Sunday, December 8, 2013

Ketidakberdayaan Sebuah Rasa

Kuingin bergegas pulang ke peristirahatan rinduku : hatimu
Bagaimana bisa mencegah bila labirin hatimu setia menjemputku kembali
Kembali ke tempat ketika kita memulai kisah, jatuh cinta
Di luar pemahaman akal sehat, rindu ini selamanya milikmu saja
Taman cintaku selalu mendakwa bayangmu tanpa henti
Mengendapkannya dalam diam, menungu perjumpaan merunut senyatanya

Perpisahan membumihanguskan seluruh rindu tak bersisa
Terang memendar di antara nanar rindu yang telantar akibat kebisuan jarak
Rinduku akut, merajalela di batas angkuh yang membisukan tanya tentangmu
Dalam pekat malam bayangmu seolah lentera yang menyoroti sebaris kesunyianku
Apakah kau memendam rindu yang sama?
Bagaimana bisa aku beranjak pergi bila sapamu hari ini menjadi kejutan
Dan sepanjang sisa hari ini hingga nanti, kisahku jadi bertema “Bahagia Bersamamu”

Saturday, September 28, 2013

Ruang Tunggu Untuk Cinta

Aku rela bayangmu menghantui setiap inci pikiranku. Mengingatmu sebagai yang pertama dan terindah. Yang pasti, aku yakin semua bermakna saat aku dan kamu menjadi kita.

Perjalanan kisah kita memang terhenti, tetapi rasaku tetap sama padamu. Berjuta kilometer harus kutempuh untuk kembali menjemput bahagia denganmu. Ya, aku memang harus menjemput bahagia bukan hanya menunggu. Kecuali menunggumu ; satu hal yang pasti kulakukan hingga kelak hati ini telah sampai di pelabuhannya.

Aku sadar akar pertautan yang menunjang itu tak sekokoh tiga tahun lalu. Atau mungkin telah tercerabut karena kebodohanku. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? Atau kamu lebih rela membiarkan pohon itu tumbang dan akhirnya mengering? Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencoba mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.

Kita memang tidak mampu memilih jatuh cinta pada siapa. Sekalipun semesta mengizinkan aku untuk memilih, sekali lagi dan seterusnya aku akan memlih jatuh cinta pada hatimu. Tetapi hati ini teriris tipis ketika kamu mengatakan hal itu. “Aku takut terluka lagi!” lirih hatimu. Tapi perlu kamu tahu, di balik kelelahannya, rinduku masih ingin bertemu dengan harapan yang sempat ia hentikan.

Tak butuh kamu memahaminya, cukup rasakan saja. Di sini, bersama kepingan kisah yang terhenti aku selalu mengejamu sebagai yang pertama.

Monday, June 3, 2013

Pendidikan Indonesia, Cerminan Bangsa (Sekolah Dambaanku)





Selaku seorang remaja yang berkesempatan untuk meraih masa depan sebagai pribadi yang sukses, saya tentu memiliki sebuah impian dan cita-cita dalam menjalani hidup di dunia fana ini. Menurut saya, sebuah cita-cita atau impian mampu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak cepat merasa puas dan berleha-leha dalam comfort zone. Melalui sebuah impian, saya akan memiliki semangat lebih untuk membuat perubahan dalam segala aspek kehidupan.

Aspek yang paling penting dalam sebuah kesuksesan adalah pendidikan. Pendidikan dinilai khalayak ramai sebagai awal dari kesuksesan, seakan-akan setiap orang yang sukses pasti memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Selain itu, pendidikan adalah salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai barometer kualitas suatu bangsa. Tak dipungkiri lagi, pendidikan merupakan elemen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dengan pendidikan, generasi penerus mampu bersaing dengan lulusan negara lainnya.

Sekolah. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi kita semua. Sekolah merupakan perwujudan kasatmata dari lembaga pendidikan. Bagaikan jembatan, sekolah dapat menghubungkan seseorang dengan impian dan cita-citanya. Akan tetapi, sebagai salah satu pelajar Indonesia, saya belum mampu mengatakan sekolah di Indonesia sebagai sekolah dambaan bagi jutaan siswa dan siswi negeri ini. Banyak aspek yang perlu dibenahi dari sekolah di Indonesia untuk dapat menjadi sekolah dambaan seluruh anak Indonesia.                                                                            

Masalah pertama dari sistem pendidikan Indonesia adalah fasilitas sarana dan prasarana. Saat animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan kian meningkat, hal ini tidak dibarengi dengan membaiknya kualitas dan sistem pendidikan di Indonesia. Tentu kita telah sama-sama mengetahui bagaimana wajah dunia pendidikan Indonesia saat ini. Sarana penunjang pendidikan di sekolah-sekolah belum memadai, sehingga menghambat aktivitas belajar mengajar itu sendiri.

Fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keefektifan proses belajar dengan baik. Dengan adanya fasilitas belajar yang memadai, maka kelancaran dalam belajar akan mudah terwujud. Jika sekolah memiliki ketersediaan dana yang mencukupi, maka kelengkapan fasilitas penunjang kegiatan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas belajar, akan semakin mudah pula kegiatan belajar mengajar terlaksana.

Fasilitas belajar yang dimaksudkan adalah menyangkut ketersediaan berbagai hal yang dapat memberikan kemudahan para pelajar dalam memperoleh pengalaman belajar yang efektif dan efisien.  Fasilitas belajar yang sangat penting adalah ruang kelas yang layak, laboratorium yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik lainnya yang secara langsung memengaruhi kenyamanan belajar.   
                     
 Selain belum memadainya sarana fisik sekolah, sistem pendidikan Indonesia ini terkadang menyulitkan siswa itu sendiri. Pemerintah selalu terobsesi dengan pendidikan yang lebih baik, namun kurang mempertimbangkan akibat dari sistem yang justru merugikan. Seperti kasus ujian nasional yang dijadikan syarat kelulusan. Hal ini dirasakan membebani, karena dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun untuk jenjang SMA, kelulusan ditetapkan hanya dari enam mata pelajaran yang diujikan selama empat hari. Hal ini tentu memberatkan karena bakat serta minat seseorang tidak bisa disamakan. Mungkin ia lemah dalam pelajaran eksakta atau sosial yang notabene adalah mata pelajaran yang  di-UN-kan, namun ia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Selain itu penetapan standar nasional tidak bisa diterapkan selama kualitas pendidikan belum merata. Sekolah di daerah Papua tentu tidak mendapatkan sarana dan prasarana sebaik sekolah di pusat kota.

Kriteria lain untuk menjadi sekolah dambaan adalah dari segi tenaga pengajar alias guru. Sekolah dambaan harus memiliki guru yang dapat menjadi panutan bagi setiap anak didiknya. Saya pernah membaca suatu buku yang berisikan kalimat seperti ini, "Have you ever really had a teacher? One who saw you as raw but precious thing, a jewel that, with wisdom, could be polished to a proud shine?"

Guru yang baik tidak hanya memiliki gelar pendidikan yang tinggi saja, namun ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Banyak yang beranggapan guru killer adalah guru yang sukses dalam mengajar, namun bagi saya anggapan itu salah besar. Saya ingin kelak tidak lagi ada guru yang membuat para siswa dan siswinya merasa seolah berada dalam ruang penyiksaan saat bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Bagi saya, guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh murid-muridnya. Selain itu, guru juga harus memiliki kemampuan sosial yang baik. Akan sia-sia saja jika guru yang sangat cerdas, namun saat mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik kepada anak didiknya. Bangsa ini merindukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang sesungguhnya.

Untuk itu perlu ada perbaikan kualitas pendidikan, karena pendidikan ditunjang dengan sarana serta prasarana yang baik pula. Dengan sarana yang memadai, akan mempermudah anak didik untuk memaksimalkan kemampuannya. Jika seorang anak mempunyai minat yang tinggi dalam bidang sains, namun peralatan yang dibutuhkan di laboratorium sekolahnya tidak memadai, tentu ini akan menjadi suatu penghambat bagi keberlangsungan pembelajaran si anak.

Selain itu, ada beberapa kualitas pendidikan lainnya yang juga menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti  proses pembelajaran, kurikulum yang digunakan, sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar, serta lulusan yang dihasilkan. Hal-hal tersebut harus benar-benar diperhatikan guna melahirkan sekolah dambaan bagi seluruh anak Indonesia.