After years that we have wasted
And the days that have been rotten
I feel like separated
Burying our pieces of memory
The days still passing, the time keeps running
Increasing the distance between us
I'm not forcing you to do so
I'm just want to tell what I feel...
There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always... love you
After a long time
After a heavy struggles
I started to think
Can I get you?
But when I see your face
But when I see your smile
I started to believe
That sometimes I will... I will
There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always...
There were you in my mind
When my heart falling down
There were you in my dream
When my soul break apart
There were you everywhere
That make me still always... love you
I don't know why I being so numb
I don't know if you feel the same
I don't know if you still with me
But I know that I still with you
Just try to keep us close
Not try to make things worse
—a birthday gift from someone special...
I've been here. I'm still right here waiting for you until i hear you sing the song.
JENIFER CINDI CLAUDYA
Bila nanti nyatanya bukan aku pencipta senyummu, setidaknya hari ini aku telah berjuang demi bahagia kita.
Tuesday, March 17, 2015
Sunday, July 6, 2014
No pain, no maturity
6 Oktober 2009
Aku
baru berhasil memejamkan mata sekitar pukul satu. Entah apa yang sedang
kupikirkan, perasaanku begitu tak tenang. Sekitar pukul lima, aku yang baru
saja berhasil memasuki dunia mimpi, sontak terbangun mendengar jeritan Mama
dari kamarnya. Dengan cemas aku segera menghampiri Mama. Di kamarnya, beliau
sedang berusaha membangunkan Papa yang tertelungkup tak sadarkan diri.
“Ma,
Papa kenapa?” tanyaku waktu itu.
“Nggak
tau, sebelum salat subuh Papa masih baik-baik aja. Mama tinggal ke belakang,
Papa udah gini.”
Panik
menjalari kami sekeluarga. Pikiran paling buruk pun menghinggapi diriku. Segera
aku dan kakakku meminta pertolongan tetangga untuk membawa Papa ke rumah sakit
yang letaknya tak jauh dari rumah. Tak lama kami sampai di UGD. Kami menunggu
hasil pemeriksaaan dengan gelisah. Beberapa menit kemudian, seorang petugas
menghampiri kedua kakakku. Dengan ekspresi tak tega, ia memberitahukan bahwa
Papa telah tiada. Saat itu aku berharap bahwa aku hanya sedang berada dalam
acara super trap. Berharap akhirnya petugas itu mengatakan bahwa semuanya hanya
jebakan. Tapi sayangnya keinginanku itu hanya sebatas ilusi. Papa meninggalkan
kami tepat lima hari sebelum resepsi pernikahan kakak pertamaku. Sedih, kalut,
kecewa, bahkan marah sempat kutujukan kepada Semesta. Kenapa mesti Papa yang
begitu cepat dipanggil menghadap-Nya? Kenapa mesti Papa dari jutaan bahkan
milyaran orang yang ada di dunia ini? Kenapa mesti menjelang hari istimewa putri
pertamanya? Mama menangis menjerit, aku bersaudarapun tak kalah berduka. Iya,
kami harus kehilangan sosok pemimpin di rumah. Satu-satunya pria yang dapat
menjaga kami. Mengingat anak Papa semuanya adalah wanita.
6
Juli 2014
Hallo, Pa? Gimana kabar Papa di sana? Pasti tempat Papa di sana lebih indah, ya? Kalo Iyan bilang, Tuhan butuh temen makanya memanggil Papa untuk menemani-NYA.
Hampir
lima tahun berlalu, aku masih tak percaya Papa telah tiada. Mungkin beberapa
orang di luar sana berpikiran bahwa aku berlebihan. Mereka dengan mudah
menyuruhku untuk bersabar dan mengikhlaskan kepergian Papa. Bagaimanapun
seseorang menyuruhku bersabar, menghilangkan kesedihanku, tetap saja air mata
ini mengalir tiap kali teringat sosok Papa. Sosok laki-laki terbaik yang sangat
kudambakan. Aku menyayangi Papa, tetapi ternyata Semesta lebih menyayangi Papa
Sering
aku menganggap Papa hanya sedang berpergian ke suatu tempat dan kelak akan
pulang. Berharap begitu Papa pulang, beliau akan bangga melihat putri-putrinya
telah tumbuh dewasa dengan segudang prestasi. Papa bisa melihat putri
pertamanya telah memiliki keluarga kecil yang harmonis dan kini sudah
memberikannya seorang cucu yang sangat lucu dan pintar. Melihat putri keduanya
telah berhasil menamatkan pendidikan strata satu di universitas paling
bergengsi di tanah air ini. Melihat bahwa putri bungsunya telah menyelesaikan high school dengan nilai yang
membanggakan. Hampir lima tahun kepergian Papa, begitu banyak yang berubah dari
keluarga kami. Mama, orangtua tunggal praktis harus menggantikan sosok Papa
untuk menjadi kepala keluarga. Aku hanya berharap Semesta memberiku waktu untuk
dapat sedikit membalas jasa orangtua, terlebih Mama. Membuat Mama tersenyum
karena hasil kerja keras putrinya.
Hidup
memang berputar antara pertemuan dan perpisahan. Terlalu nyaman dengan kondisi
yang tengah dihadapi kadang membuatku terlupa bahwa kami milik Sang Maha Hidup.
Kehilangan tentu menyedihkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Itu lumrah
dirasakan manusia yang kadar egonya melebihi superego. Hampir lima tahun
berlalu aku masih belajar untuk berdamai dengan keadaan. Mencoba mengafirmasi
bahwa pada saatnya memang aku harus berpisah dengan semua orang yang kusayang.
Sebelum waktu itu datang, aku harus berbuat yang terbaik untuk mereka.
Malam
ini, ketika rasa rinduku begitu membuncah, aku hanya dapat memandangi sosok
Papa dalam bingkai foto. Aku bahagia jika Papa bahagia di sana. Seperti yang
pernah kukatakan, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di surga Allah. No
matter what’s going on, i’m pretty sure everything’s gonna be okay.
Ade sayang Papa :')
Saturday, July 5, 2014
Alles Gute zum Geburtstag, Ayen! ♥
“Injit-injit semut,
siapa naik ke atas.”
Kalimat yang terdengar agak aneh itu adalah jingle yang lagi
sering Darrell nyanyiin beberapa minggu belakangan. Darrell Azzam Fawwaz Dean,
biasa gue panggil Ayen. Dia adalah keponakan kesayangan gue, karena so far dia
satu-satunya keponakan yang gue miliki. Minggu lalu Darrell
merayakan hari jadinya yang ke-4.
Meskipun baru berumur 4 tahun, Darrell bagaikan anak ajaib yang hampir tahu semua hal. Tingginya 102 cm, berat badannya 15 kg. Berat badannya gampang naik dan turun, tergantung nafsu makannya. Tapi belakangan ini dia harus sering check up karena dia mengikuti rekam jejak gue yang memiliki masalah paru-paru sewaktu kecil. Cepet sembuh Ayen, jangan susah minum obat!
Meskipun baru berumur 4 tahun, Darrell bagaikan anak ajaib yang hampir tahu semua hal. Tingginya 102 cm, berat badannya 15 kg. Berat badannya gampang naik dan turun, tergantung nafsu makannya. Tapi belakangan ini dia harus sering check up karena dia mengikuti rekam jejak gue yang memiliki masalah paru-paru sewaktu kecil. Cepet sembuh Ayen, jangan susah minum obat!
Well, gue akui, Darrell emang anak yang cerdas. Tumbuh kembangnya
begitu cepat. Nggak perlu waktu lama buat bikin dia ngerti tentang hal baru. Satu
hal yang gue sayangkan adalah
pertumbuhan rambutnya yang begitu lambat.
Belakangan ini Darrell sedang terkontaminasi virus sinetron
yang menjadi tontonan favoritnya. Sebut saja GGS. Kadang gue ngerasa sedih tiap
kali denger dia mengeluarkan serentetan kalimat yang dia dapet dari sinetron itu. Setiap
hari gue berharap supaya dia cepat mendapat hidayah dan berhenti nonton serial yang belum pantes dikonsumsi
anak seumurnya.
Apapun itu, Darrell tetep keponakan kesayangan gue. Anak
kecil yang paling deket sama gue selain anak gue nanti, itupun kalo gue punya
anak hihi. Mungkin dia satu-satunya anak yang sejak bayi nggak takut sama gue.
Lumayan lengket, tapi kadang annoying banget kalo penyakit resenya lagi kumat. Ya
layaknya kelakuan anak seumurnya aja sih.
Anyway, yuk tengok perubahan Darrell sejak lahir sampe sekarang. Check this out!
Last but surely not least, happy birthday my dearest handsome
nephew! Apapun yang terbaik buat Ayen, semoga Allah berikan. Makin pinter dan
jangan bikin onar terus. My amen to every wish you have. Kalo suatu saat kamu
baca ini, tinggalkan jejak ya. I love
youuuuuuuuuu ♥
Sunday, December 8, 2013
Ketidakberdayaan Sebuah Rasa
Kuingin
bergegas pulang ke peristirahatan rinduku : hatimu
Bagaimana bisa mencegah bila labirin hatimu setia menjemputku kembali
Kembali ke tempat ketika kita memulai kisah, jatuh cinta
Di luar pemahaman akal sehat, rindu ini selamanya milikmu saja
Taman cintaku selalu mendakwa bayangmu tanpa henti
Mengendapkannya dalam diam, menungu perjumpaan merunut senyatanya
Perpisahan membumihanguskan seluruh rindu tak bersisa
Terang memendar di antara nanar rindu yang telantar akibat kebisuan jarak
Rinduku akut, merajalela di batas angkuh yang membisukan tanya tentangmu
Dalam pekat malam bayangmu seolah lentera yang menyoroti sebaris kesunyianku
Apakah kau memendam rindu yang sama?
Bagaimana bisa aku beranjak pergi bila sapamu hari ini menjadi kejutan
Dan sepanjang sisa hari ini hingga nanti, kisahku jadi bertema “Bahagia Bersamamu”
Bagaimana bisa mencegah bila labirin hatimu setia menjemputku kembali
Kembali ke tempat ketika kita memulai kisah, jatuh cinta
Di luar pemahaman akal sehat, rindu ini selamanya milikmu saja
Taman cintaku selalu mendakwa bayangmu tanpa henti
Mengendapkannya dalam diam, menungu perjumpaan merunut senyatanya
Perpisahan membumihanguskan seluruh rindu tak bersisa
Terang memendar di antara nanar rindu yang telantar akibat kebisuan jarak
Rinduku akut, merajalela di batas angkuh yang membisukan tanya tentangmu
Dalam pekat malam bayangmu seolah lentera yang menyoroti sebaris kesunyianku
Apakah kau memendam rindu yang sama?
Bagaimana bisa aku beranjak pergi bila sapamu hari ini menjadi kejutan
Dan sepanjang sisa hari ini hingga nanti, kisahku jadi bertema “Bahagia Bersamamu”
Saturday, September 28, 2013
Ruang Tunggu Untuk Cinta
Aku rela
bayangmu menghantui setiap inci pikiranku. Mengingatmu sebagai yang pertama dan
terindah. Yang pasti, aku yakin semua bermakna saat aku dan kamu menjadi kita.
Perjalanan kisah
kita memang terhenti, tetapi rasaku tetap sama padamu. Berjuta kilometer harus
kutempuh untuk kembali menjemput bahagia denganmu. Ya, aku memang harus
menjemput bahagia bukan hanya menunggu. Kecuali menunggumu ; satu hal yang
pasti kulakukan hingga kelak hati ini telah sampai di pelabuhannya.
Aku sadar akar pertautan yang menunjang itu tak sekokoh tiga tahun lalu. Atau mungkin telah tercerabut karena kebodohanku. Mungkinkah menanamnya sekali lagi? Atau kamu lebih rela membiarkan pohon itu tumbang dan akhirnya mengering? Lalu, kita berpisah di simpang jalan dan mencoba mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.
Kita memang tidak mampu memilih jatuh cinta pada siapa. Sekalipun semesta mengizinkan aku untuk memilih, sekali lagi dan seterusnya aku akan memlih jatuh cinta pada hatimu. Tetapi hati ini teriris tipis ketika kamu mengatakan hal itu. “Aku takut terluka lagi!” lirih hatimu. Tapi perlu kamu tahu, di balik kelelahannya, rinduku masih ingin bertemu dengan harapan yang sempat ia hentikan.
Tak butuh kamu memahaminya, cukup rasakan saja. Di sini, bersama kepingan kisah yang terhenti aku selalu mengejamu sebagai yang pertama.
Monday, June 3, 2013
Pendidikan Indonesia, Cerminan Bangsa (Sekolah Dambaanku)
Selaku seorang remaja yang berkesempatan untuk meraih masa depan sebagai pribadi yang sukses, saya tentu memiliki sebuah impian dan cita-cita dalam menjalani hidup di dunia fana
ini. Menurut
saya, sebuah cita-cita atau
impian mampu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak cepat merasa puas dan berleha-leha dalam comfort zone. Melalui sebuah impian, saya akan memiliki semangat
lebih untuk membuat perubahan dalam segala aspek kehidupan.
Aspek yang paling penting dalam
sebuah kesuksesan adalah pendidikan. Pendidikan dinilai khalayak ramai sebagai awal dari kesuksesan, seakan-akan setiap orang yang sukses pasti memiliki latar
belakang pendidikan yang memadai. Selain itu, pendidikan adalah salah satu hal yang
bisa dijadikan sebagai barometer kualitas suatu bangsa. Tak dipungkiri lagi,
pendidikan merupakan elemen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dengan
pendidikan, generasi penerus mampu bersaing dengan lulusan negara
lainnya.
Sekolah. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi kita semua. Sekolah
merupakan perwujudan kasatmata dari lembaga pendidikan. Bagaikan jembatan,
sekolah dapat menghubungkan seseorang dengan impian dan cita-citanya. Akan
tetapi, sebagai salah satu pelajar Indonesia, saya belum
mampu mengatakan sekolah di
Indonesia sebagai sekolah dambaan bagi jutaan siswa dan siswi negeri ini. Banyak
aspek yang perlu dibenahi dari sekolah di Indonesia untuk dapat menjadi sekolah
dambaan seluruh anak Indonesia.
Masalah pertama dari sistem pendidikan Indonesia adalah
fasilitas sarana dan prasarana. Saat
animo masyarakat untuk memperoleh pendidikan kian meningkat, hal ini tidak
dibarengi dengan membaiknya kualitas dan sistem pendidikan di Indonesia. Tentu
kita telah sama-sama mengetahui bagaimana wajah dunia pendidikan Indonesia saat
ini. Sarana penunjang pendidikan di sekolah-sekolah belum memadai, sehingga
menghambat aktivitas belajar mengajar itu sendiri.
Fasilitas
belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keefektifan proses belajar dengan baik. Dengan adanya fasilitas belajar yang
memadai, maka
kelancaran dalam belajar akan mudah
terwujud. Jika sekolah memiliki ketersediaan dana yang mencukupi, maka kelengkapan fasilitas penunjang
kegiatan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik. Semakin lengkap fasilitas
belajar, akan semakin mudah pula kegiatan
belajar mengajar terlaksana.
Fasilitas belajar yang
dimaksudkan adalah menyangkut ketersediaan berbagai hal yang dapat memberikan kemudahan para pelajar dalam memperoleh
pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Fasilitas belajar yang
sangat penting adalah ruang kelas yang layak, laboratorium
yang memenuhi syarat bengkel kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik
lainnya yang secara langsung memengaruhi
kenyamanan belajar.
Selain belum memadainya
sarana fisik sekolah, sistem pendidikan Indonesia ini terkadang menyulitkan
siswa itu sendiri. Pemerintah selalu terobsesi dengan pendidikan yang lebih
baik, namun kurang mempertimbangkan akibat dari sistem yang justru merugikan.
Seperti kasus ujian nasional yang dijadikan syarat kelulusan. Hal ini dirasakan
membebani, karena dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun untuk jenjang SMA, kelulusan
ditetapkan hanya dari enam mata
pelajaran yang diujikan selama empat hari.
Hal ini tentu
memberatkan karena bakat serta minat seseorang tidak bisa disamakan. Mungkin ia
lemah dalam pelajaran eksakta atau sosial yang
notabene adalah mata pelajaran yang di-UN-kan, namun ia berbakat dalam bidang seni atau olahraga. Selain itu penetapan
standar nasional tidak bisa diterapkan selama kualitas pendidikan belum merata.
Sekolah di daerah Papua tentu tidak mendapatkan sarana dan prasarana sebaik
sekolah di pusat kota.
Kriteria lain untuk menjadi sekolah dambaan adalah dari
segi tenaga pengajar alias guru. Sekolah dambaan harus memiliki guru yang dapat menjadi panutan bagi setiap anak
didiknya. Saya pernah membaca
suatu buku yang berisikan kalimat seperti ini, "Have you ever really had a teacher? One who
saw you as raw but precious thing, a jewel that, with wisdom, could be polished
to a proud shine?"
Guru yang baik tidak hanya memiliki gelar pendidikan yang tinggi saja, namun ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Banyak yang beranggapan guru killer adalah guru yang sukses dalam mengajar, namun bagi saya anggapan itu salah besar. Saya
ingin kelak tidak lagi ada guru
yang membuat para siswa dan siswinya
merasa seolah berada dalam
ruang penyiksaan saat bel tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Bagi saya,
guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh murid-muridnya. Selain itu, guru juga harus memiliki
kemampuan sosial yang baik. Akan sia-sia saja
jika guru yang sangat cerdas, namun saat
mengajar tidak dapat menyampaikan materi dengan baik kepada anak didiknya. Bangsa ini merindukan “pahlawan tanpa tanda jasa” yang
sesungguhnya.
Untuk itu perlu ada
perbaikan kualitas pendidikan, karena pendidikan ditunjang dengan sarana serta
prasarana yang baik pula. Dengan sarana yang memadai, akan mempermudah anak
didik untuk memaksimalkan kemampuannya. Jika seorang anak mempunyai minat yang
tinggi dalam bidang sains, namun peralatan yang dibutuhkan di laboratorium sekolahnya
tidak memadai, tentu ini akan
menjadi suatu penghambat bagi keberlangsungan pembelajaran si anak.
Selain itu, ada beberapa
kualitas pendidikan lainnya yang juga menjadi hal yang penting untuk
dipertimbangkan. Seperti proses pembelajaran, kurikulum yang digunakan,
sumber daya manusia, yang dalam hal ini adalah tenaga pengajar, serta lulusan
yang dihasilkan. Hal-hal tersebut harus
benar-benar diperhatikan guna melahirkan sekolah dambaan bagi seluruh anak
Indonesia.
Subscribe to:
Comments (Atom)








